banner 160x600
banner 160x600
banner 1038x250

Pertarungan Abadi di Tubuh TNI: Eks KNIL vs Eks PETA

JW Movement. com-Jakarta
Waktu jadi Kepala Staf Tentara, keluarga Oerip Soemohardjo tinggal di Jalan Widoro, Kota Baru, Yogyakarta. Di zaman Jepang, Oerip tinggal di Gentan, utara kota Yogyakarta. Oerip dan istri yang sudah kawin dua dekade tak memiliki anak. Di rumahnya, selain ada anak angkat mereka yang keturunan Turki, Abi; keluarga Oerip juga menampung Dewi, anak dari Kolonel Hidajat.

Acara makan bersama adalah hal biasa di rumah Oerip. Kapten Mokoginta, Kapten Abdulkadir, Mayor Sastraprawira, juga Kolonel Simatupang sering makan di rumah itu. Mereka berdinas di Yogyakarta. Jenderal Major Mohammad Soedibio, yang jadi kepala di Akademi Militer, juga biasa ke rumah itu. Disinggahi perwira dari luar Yogyakarta juga hal biasa.

“Kalau sedang berada di Jogja, Kolonel Alex Kawilarang suka menginap di rumah Ibu dan Pak Oerip,” tulis Dewi Rais Abin dalam Hidayat: Father, Friend, and a Gentlemen (2016: 31).

Dewi ingat, Alex suka bernyanyi kalau sedang mandi. Alex tergolong perwira yang paling dekat dengan keluarga Oerip. Dia salah seorang anak angkat favorit dari keluarga Oerip.

Mereka yang kerap menyambangi Oerip dan dekat dengannya punya satu kesamaan: berasal dari tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL). Oerip pernah 20 tahun lebih dinas di sana, dengan pangkat terakhir mayor. Begitu juga ayah Alex. Tak heran, Alex tergolong paling dekat dengan keluarga Oerip.

Ayah tiri Dewi, Hidajat Martaatmadja, pernah sebentar jadi Letnan KNIL, sebelum akhirnya kawin dengan ibu kandung Dewi. Soedibio juga mantan perwira KNIL. Sementara Tahi Bonar Simatupang juga pernah dididik jadi perwira zeni untuk KNIL. Di luar perwira-perwira tadi, masih ada Jenderal Mayor Didi Kartasasmita dan Kolonel Abdul Haris Nasution, yang jadi Panglima di Jawa Barat.

Organisasi Tentara Keamanan Rakjat (TKR) di Markas Besar Oemoem (MBO) di Yogyakarta kebanyakan terdiri perwira mantan KNIL. “Oerip diberi tugas menjadi formatur dan Kepala MBO,” tutur Didi Kartasasmita dalam Didi kartasasmita: Pengabdian Bagi Kemerdekaan (1993: 126).

Oerip diberi pangkat letnan jenderal untuk itu. Demi koordinasi, karena banyak divisi-divisi yang tersebar di Jawa, maka dibentuklah tiga komandemen (Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur). Mereka yang menjadi Panglima Komandemen itu adalah Didi Kartasasmita untuk Komandemen Jawa Barat, Soedibio di Komandemen Jawa Timur, dan Soeratman pada Komandemen Jawa Tengah. Ketiganya mantan KNIL.

Di Mana Para Mantan PETA?

Menurut Didi Kartasasmita (hlm. 135), kabarnya komandemen Jawa Timur dan Jawa Tengah tak berjalan dengan baik. Didi tampaknya bisa diterima dengan baik di Jawa Barat. Ia beruntung berada di Jawa Barat, yang tentara-tentaranya lebih terbuka ketimbang di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Meski di Jawa Barat juga banyak terdapat mantan PETA.

“Dalam 1945/1946 perwira-perwira bekas KNIL tak bisa diterima di kalangan divisi-divisi di Jawa Timur dan Jawa Tengah,” kata Ulf Sundhaussen dalam Politik Militer Indonesia 1945-1967 (1986: 26).

Di Jawa Tengah, menurut Ulf, memang ada bekas KNIL yang diterima. Pertama, G.P.H. Poerbonegoro (mantan kapten kavaleri KNIL) yang jadi Panglima Divisi X Surakarta; kedua, Gatot Soebroto (mantan Sersan KNIL) yang belakangan jadi Panglima Divisi setelah Sudirman naik jadi panglima besar.

Gatot sendiri tak dihitung eks KNIL, karena dia pernah di PETA, seperti kebanyakan para komandan resimen di Jawa Tengah. Para komandan resimen biasanya pernah menjadi komandan kompi atau batalyon PETA pada zaman Jepang. Begitu pun dengan divisi-divisi di Jawa.

Jumlah mantan perwira PETA tentu lebih banyak ketimbang KNIL. Joyce Lebra dalam Tentara Gemblengan Jepang (1988: 122) menyebut, kekuatan PETA berjumlah 33.000 personel. Di mana bekas prajurit bawahan PETA akan lebih bisa menerima komandan-komandan yang mantan PETA pula. Tak heran jika PETA begitu dominan di TKR atau Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Jadi, para mantan PETA banyak berjaya memimpin pasukan setingkat resimen di divisi-divisi atau komandemen di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sementara itu, menurut Ulf, “para bekas opsir KNIL berkelompok di markas besar atau di komandemen Jawa Barat” (1986: 26).

Didikan Londo vs Didikan Nippon

Mantan perwira KNIL dengan mantan perwira PETA punya gaya berbeda dalam menghadapi militer asing di awal kemerdekaan. Menurut Ulf Sundhaussen, mantan KNIL mementingkan perencanaan, sementara bekas PETA mementingkan semangat.

Waktu jadi Panglima Komandemen Jawa Barat, Didi yang punya anak buah PETA sering mendengar obrolan mereka. “Kenapa yang memimpin TKR kebanyakan orang-orang mantan KNIL, padahal mantan PETA jumlahnya jauh lebih banyak? Itu adalah salah satu contoh lontaran mereka yang sempat saya dengar,” ujar Didi Kartasasmita (hlm. 142).

Aroma keengganan banyak PETA atas dominasi KNIL dalam pucuk-pucuk komando tentara sampai juga ke telinga Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo.

Suatu rapat pun digelar pada 12 November 1945. Para peserta kebanyakan adalah komandan resimen, yang berpangkat letnan kolonel. Abdul Haris Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas jilid 1 – Kenangan Masa Gerilya (1989: 179) menyebut, “sebenarnya acara pokok dari konferensi TKR itu adalah untuk menggariskan suatu strategi TKR untuk menghadapi sekutu (dan NICA Belanda).”

Didi Kartasasmita melihat gelagat tidak tertib dalam rapat. Banyak peserta menenteng pistol. Oerip sendiri tak bisa bertindak tegas lagi dalam menghadapi banyak kemauan dari para perwira yang hadir. Rusuhnya rapat itu kemudian berusaha diatasi dengan adu suara, demi penentuan siapa panglima TKR. Pemungutan suara pun dilakukan. Hasilnya adalah 21 suara untuk Oerip dan 23 suara untuk Sudirman.

Sepengakuan Nasution, Kolonel Nuh dari Sumatera adalah faktor penentu kemenangan Sudirman. Dia mewakili 6 resimen di Sumatra. Dia memberikan semua suaranya untuk Sudirman. Nuh adalah mantan Gyugun, tentara sukarela versi Sumatra bikinan Jepang, seperti PETA di Jawa.

Terpilihnya Sudirman adalah kemenangan eks PETA. Mantan perwira PETA belakangan menjadi dominan di TNI/ABRI. Mantan perwira KNIL yang jadi pucuk pimpinan di TNI setelah Oerip Soemohardjo hanyalah Tahi Bonar Simatupang sebagai Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP) dan Abdul Haris Nasution sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) lalu Menteri Koordinator Pertahanan.

Ketika Nasution jadi KSAD, pertarungan antara mantan PETA dan KNIL agak mereda. Banyak mantan PETA yang direkrut sebagai pembantunya dan banyak pula yang menjadi panglima atau komandan di daerah. Setelah Soeharto jadi presiden, mantan PETA banyak mengisi posisi puncak kemiliteran.

Djatikusumo, orang yang pernah merasakan pendidikan KNIL sekaligus PETA, pernah menulis kesaksiannya. Meski tak sampai 8 bulan di CORO (pelatihan calon perwira KNIL) dengan pangkat kopral taruna, Djatikusumo tak begitu bangga. “Kalau saya bandingkan dengan latihan di CORO, latihan di PETA itu luar biasa hebat,” kata Djatikusumo kepada Tempo (18/7/1992).

Di dalam ketentaraan yang dibangun 18 bulan itu, Djatikusumo pernah jadi komandan kompi. Sudah tentu untuk ilmu militer, PETA tak lebih dari KNIL. Tapi bagi Djatikusumo, KNIL dan CORO tergolong payah dalam melatih tentara.

“CORO itu latihan militer untuk ndoro, priyayi. Lha, wong Jepang sudah sampai di Singapura, tapi latihannya itu-itu juga, baris-berbaris dan menghafal teori.”

Sumber :(Tirto.id-Politik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 970x141